![]() |
| Tari Topeng Menorphoto from http://lpsn.or.id |
![]() |
| Tari Ronggeng/Ketuk Tilu photo from google image search |
![]() |
| Kesenian Talempong Unggan photo from google image search |
Lalu
ya saya juga baru tahu loh bahwa banyak sekali bahasa daerah di
Indonesia yang hampir punah bahkan banyak pula yang sudah punah. Seperti
yang saya kutip dari kampus.okezone.com :
Dari ratusan ragam bahasa daerah di Tanah Air, 139 di antaranya terancam punah. Bahkan, tercatat 15 bahasa daerah telah punah.
"Ke 15 bahasa yang punah adalah 11 bahasa daerah di Maluku, dan masing-masing satu di Sumatera, Sulawesi, Papua Barat dan Kepulauan Halmahera," ungkap Kepala Balai Bahasa Pusat Kemendikbud Dr. Sugiyono kepada wartawan di sela-sela Seminar Internasional Strategi Pelestarian dan Pengembangan Budaya Lokal dalam Bingkai Global di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (11/10/2012).
Sementara itu, ke-139 bahasa daerah yang terancam punah, menurut Sugiyono, di antaranya adalah 22 bahasa daerah di Maluku, 67 bahasa di Kepulauan Halmahera, 36 bahasa di Sulawese, 11 bahasa di Sumbawa, dan dua bahasa di Sumatera. Dia mengimbuh, khasanah bahasa dan sastra di Indonesia memang sangat beragam. Namun sebagian besar dari keragaman itu dalam kondisi memprihatinkan.
Hal
ini bisa terjadi tentu karena banyak faktor, seperti orang tua yang
sudah tidak mengajarkan lagi bahasa daerah kepada anaknya, atau mungkin
generasi muda menganggap bahasa daerah "kampungan" sehingga mereka
enggan menggunakannya, atau mungkin kurangnya usaha dari pemerintah
untuk melestarikan kekayaan Indonesia ini. Selain itu fenomena generasi
muda yang lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing tidak dibarengi
dengan ketertarikan mereka mempelajari bahasa daerah mereka sendiri,
iyaa saya juga gitu koq *malu*.
Dan ternyata bahasa Lampung, iya yang di Selatan Sumatera itu, juga hampir mengalami kepunahan loh. Seperti dikutip dari bahasa.kompasiana.com :
Banyak ahli bahasa yang memprediksi bahwa bahasa Lampung akan punah dalam waktu 60–70 tahun dari sekarang. Kebijakan transmigrasi yang diberlakukan pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto sudah mengubah wajah Lampung secara umum.
Lampung tidak lagi didominasi oleh masyarakat bersuku Lampung, justru pendatang. Hal ini turut berpengaruh pada pergeseran pilihan bahasa di masyarakat, di mana bahasa Lampung pada akhirnya tidak lagi menjadi pilihan.
BERDASARKAN hasil studi yang dilakukan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung dalam buku Persebaran Bahasa-Bahasa di Provinsi Lampung (2008: 1-2), sebaran penduduk di provinsi ini juga tidak lagi didominasi oleh suku Lampung. Masyarakat bersuku Jawa mendominasi dengan 61,88% (4.113.731 jiwa), Lampung 11,92% (729.312 jiwa), Sunda 11,27% (749.556 jiwa), serta suku-suku lainnya seperti Bengkulu, Batak, Minang, dan Bugis 11,35% (754.989 jiwa). Masyarakat pendatang tersebut hidup berkelompok dalam komunitasnya dengan budaya dan bahasanya, sehingga yang terjadi bahasa Lampung saat ini terpojok. Mengingat, persentase penduduk yang bisa terkategorikan sebagai minoritas di tanahnya sendiri.
Alih-alih mengupayakan pelestarian bahasa Lampung, masyarakat kini justru juga berpikir praktis. Penduduk yang bersuku Lampung merasa lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan pendatang dengan alasan menghormati para pendatang tersebut. Bahasa Lampung hanya digunakan untuk berkomunikasi di lingkungan keluarga, sesama suku, dan upacara adat.
Miris
yah bacanya, saya yang bukan berasal dari Lampung aja langsung
kepikiran dengan bahasa daerah yang saya sendiri gak begitu bisa, iyaa
habis gimana dong lha wong si mamih cuma ngajarin bahasa Jawa ala pasar
doang, terus bahasa Bali yang dari SD sampe SMA saya pelajarin di
sekolah juga jadi menguap lantaran jarang saya pake ^_^;. Jangan-jangan
juga bakalan punah ya bertahun-tahun ke depan. Jangan-jangan nanti
bahasa Indonesia ikutan punah berganti bahasa Inggris or yang lagi
populer sekarang bahasa Korea *iyaa saya kepikiran loh mau belajar bahasa Korea*. Jangan-jangan besok Asyanti udah sehat trus bisa duet lagi sama Anang *krik krik krik ya ampun kenapa nyasar jadi infotainment gini ya* hihi.
Lalu kemudian kita akan menyalahkan siapa bila sampai beneran
punah? Pemerintah daerah? Pemerintah pusat? Lalu kulari ke laut atau pecahkan saja gelasnya biar ramai? *haduh mulai ngaco deh* Dari pada kita menyalahkan
orang lain, sudahkah kita melihat diri kita, apa yang sudah kita lakukan
untuk ikut melestarikan kebudayaan Indonesia ini?
Seperti teman saya, Sanggi
beserta teman-teman sedaerahnya dari Lampung juga yang miris banget
waktu tahu bahwa bahasa daerah mereka, bahasa Lampung, nyaris diambang
kepunahan. Mereka pun berencana untuk membuat project Film bagi Tanah Lampung, dimana film ini akan menjadi film layar lebar pertama
yang mengeksplorasi kebudayaan lokal Lampung dan permasalahan sosial di
dalamnya. Wiih keren dan kreatif nyak idenya, nantinya mungkin film ini akan seperti 5cm yang memperkenalkan indahnya Ranu Kumbolo dan puncak Gunung Semeru, atau seperti film The Mirror Never Lies yang memperkenalkan kebudayaan suku Bajo serta kekayaan kehidupan laut di Wakatobi.
Nantinya hasil dari pemutaran film ini akan mereka salurkan untuk mendirikan education center dan area bermain yang
educative. Karena saat ini masih banyak adik-adik di daerah yang masih minim pendidikan, dan juga hiburan yang layak bagi usia mereka.
Semoga
project ini bisa beneran terlaksana ya, terus bisa dibawa juga di
kancah Internasional, jadi bisa memperkenalkan keindahan lain dari
Indonesia ke dunia Internasional, trus bisa jadi inspirasi buat daerah
lain di Indonesia untuk lebih mencintai budaya daerah mereka, keindahan
alam mereka, bukan merusak, tapi merawat, melestarikan, dan promosi
daerah mereka tentunya.
![]() |
| Keindahan Pantai Mutun, Lampung photo from http://techno80.multiply.com |
Please beri dukungan serta tanggapan kalian mengenai project ini dengan menuliskan komentar di bawah ya.
Sumber Bacaan : Dini Setiyorini, Bali





Tidak ada komentar:
Posting Komentar