Kamis, 14 Maret 2013

Bahasa Daerah di Indonesia Nyaris Punah!

Tari Topeng Menorphoto from http://lpsn.or.id
Kali ini tema postingan saya adalah tentang kebudayaan Indonesia. Iya kalian harus bangga loh jadi penduduk Indonesia, karena Indonesia "sebenarnya" adalah negara yang indah dan luar biasa kaya *jangan ngomongin pemerintahnya yang banyak berita korupsinya dulu deh ya*. Tapi kadang kita suka gak sadar dan gak mau peduli dengan segala kekayaan alam maupun kebudayaan yang ada di Indonesia. Makanya jangan heran ya kalo mulai banyaknya kebudayaan di Indonesia yang hampir punah. Saat ini ada kira-kira 40 seni asli Jawa Barat yang hampir punah antara lain seperti Topeng Menor, Ronggeng Ketuk  dan Ngaguyah Hujan. Selain dari Jawa Barat ada pula dari Sumatera Barat seperti Talempong Unggan, Gandai, dan Tupai Janjang. Jujur saya baru denger Indonesia punya kesenian tersebut. Belum lagi daerah-daerah lain di Indonesia. Atau coba kalian lihat daerah kalian sendiri, jangan-jangan kebudayaan di daerah kalian nyaris punah. >_<

Tari Ronggeng/Ketuk Tilu
photo from google image search

Kesenian Talempong Unggan
photo from google image search

Lalu ya saya juga baru tahu loh bahwa banyak sekali bahasa daerah di Indonesia yang hampir punah bahkan banyak pula yang sudah punah. Seperti yang saya kutip dari kampus.okezone.com :
Dari ratusan ragam bahasa daerah di Tanah Air, 139 di antaranya terancam punah. Bahkan, tercatat 15 bahasa daerah telah punah.
           
"Ke 15 bahasa yang punah adalah 11 bahasa daerah di Maluku, dan masing-masing satu di Sumatera, Sulawesi, Papua Barat dan Kepulauan Halmahera," ungkap Kepala Balai Bahasa Pusat Kemendikbud Dr. Sugiyono kepada wartawan di sela-sela Seminar Internasional Strategi Pelestarian dan Pengembangan Budaya Lokal dalam Bingkai Global di Perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (11/10/2012).

Sementara itu, ke-139 bahasa daerah yang terancam punah, menurut Sugiyono, di antaranya adalah 22 bahasa daerah di Maluku, 67 bahasa di Kepulauan Halmahera, 36 bahasa di Sulawese, 11 bahasa di Sumbawa, dan dua bahasa di Sumatera. Dia mengimbuh, khasanah bahasa dan sastra di Indonesia memang sangat beragam. Namun sebagian besar dari keragaman itu dalam kondisi memprihatinkan.
Hal ini bisa terjadi tentu karena banyak faktor, seperti orang tua yang sudah tidak mengajarkan lagi bahasa daerah kepada anaknya, atau mungkin generasi muda menganggap bahasa daerah  "kampungan" sehingga mereka enggan menggunakannya, atau mungkin kurangnya usaha dari pemerintah untuk melestarikan kekayaan Indonesia ini. Selain itu fenomena generasi muda yang lebih tertarik untuk mempelajari bahasa asing tidak dibarengi dengan ketertarikan mereka mempelajari bahasa daerah mereka sendiri, iyaa saya juga gitu koq *malu*.
Dan ternyata bahasa Lampung, iya yang di Selatan Sumatera itu, juga hampir mengalami kepunahan loh. Seperti dikutip dari bahasa.kompasiana.com :
Banyak ahli bahasa yang memprediksi bahwa bahasa Lampung akan punah dalam waktu 60–70 tahun dari sekarang. Kebijakan transmigrasi yang diberlakukan pada zaman pemerintahan Presiden Soeharto sudah mengubah wajah Lampung secara umum.
Lampung tidak lagi didominasi oleh masyarakat bersuku Lampung, justru pendatang. Hal ini turut berpengaruh pada pergeseran pilihan bahasa di masyarakat, di mana bahasa Lampung pada akhirnya tidak lagi menjadi pilihan.
BERDASARKAN hasil studi yang dilakukan oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung dalam buku Persebaran Bahasa-Bahasa di Provinsi Lampung (2008: 1-2), sebaran penduduk di provinsi ini juga tidak lagi didominasi oleh suku Lampung. Masyarakat bersuku Jawa mendominasi dengan 61,88% (4.113.731 jiwa), Lampung 11,92% (729.312 jiwa), Sunda 11,27% (749.556 jiwa), serta suku-suku lainnya seperti Bengkulu, Batak, Minang, dan Bugis 11,35% (754.989 jiwa). Masyarakat pendatang tersebut hidup berkelompok dalam komunitasnya dengan budaya dan bahasanya, sehingga yang terjadi bahasa Lampung saat ini terpojok. Mengingat, persentase penduduk yang bisa terkategorikan sebagai minoritas di tanahnya sendiri.
Alih-alih mengupayakan pelestarian bahasa Lampung, masyarakat kini justru juga berpikir praktis. Penduduk yang bersuku Lampung merasa lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan pendatang dengan alasan menghormati para pendatang tersebut. Bahasa Lampung hanya digunakan untuk berkomunikasi di lingkungan keluarga, sesama suku, dan upacara adat.
Miris yah bacanya, saya yang bukan berasal dari Lampung aja langsung kepikiran dengan bahasa daerah yang saya sendiri gak begitu bisa, iyaa habis gimana dong lha wong si mamih cuma ngajarin bahasa Jawa ala pasar doang, terus bahasa Bali yang dari SD sampe SMA saya pelajarin di sekolah juga jadi menguap lantaran jarang saya pake ^_^;. Jangan-jangan juga bakalan punah ya bertahun-tahun ke depan. Jangan-jangan nanti bahasa Indonesia ikutan punah berganti bahasa Inggris or yang lagi populer sekarang bahasa Korea *iyaa saya kepikiran loh mau belajar bahasa Korea*. Jangan-jangan besok Asyanti udah sehat trus bisa duet lagi sama Anang *krik krik krik ya ampun kenapa nyasar jadi infotainment gini ya* hihi.

Lalu kemudian kita akan menyalahkan siapa bila sampai beneran punah? Pemerintah daerah? Pemerintah pusat? Lalu kulari ke laut atau pecahkan saja gelasnya biar ramai? *haduh mulai ngaco deh* Dari pada kita menyalahkan orang lain, sudahkah kita melihat diri kita, apa yang sudah kita lakukan untuk ikut melestarikan kebudayaan Indonesia ini?

Seperti teman saya, Sanggi beserta teman-teman sedaerahnya dari Lampung juga yang miris banget waktu tahu bahwa bahasa daerah mereka, bahasa Lampung, nyaris diambang kepunahan. Mereka pun berencana untuk membuat project Film bagi Tanah Lampung, dimana film ini akan menjadi film layar lebar pertama yang mengeksplorasi kebudayaan lokal Lampung dan permasalahan sosial di dalamnya. Wiih keren dan kreatif nyak idenya, nantinya mungkin film ini akan seperti 5cm yang memperkenalkan indahnya Ranu Kumbolo dan puncak Gunung Semeru, atau seperti film The Mirror Never Lies yang memperkenalkan kebudayaan suku Bajo serta kekayaan kehidupan laut di Wakatobi.


Nantinya hasil dari pemutaran film ini akan mereka salurkan untuk mendirikan education center dan area bermain yang educative. Karena saat ini masih banyak adik-adik di daerah yang masih minim pendidikan, dan juga hiburan yang layak bagi usia mereka.
Semoga project ini bisa beneran terlaksana ya, terus bisa dibawa juga di kancah Internasional, jadi bisa memperkenalkan keindahan lain dari Indonesia ke dunia Internasional, trus bisa jadi inspirasi buat daerah lain di Indonesia untuk lebih mencintai budaya daerah mereka, keindahan alam mereka, bukan merusak, tapi merawat, melestarikan, dan promosi daerah mereka tentunya.

Keindahan Pantai Mutun, Lampung
photo from http://techno80.multiply.com
Oh iya project ini membutuhkan dukungan dari teman-teman asli penduduk Lampung, pendatang yang tinggal di Lampung, orang-orang yang tahu Lampung, orang-orang yang care sama budaya Indonesia, para pecinta film, pokoknya semua rakyat Indonesia yang mau mendukung deh, mohon supportnya untuk terlaksananya project ini.
Please beri dukungan serta tanggapan kalian mengenai project ini dengan menuliskan komentar di bawah ya. 
Sumber Bacaan : Dini Setiyorini, Bali

Tidak ada komentar:

Posting Komentar